AIR MATA BIRU

Liburan akhir tahun sudah berakhir, hari ini kerutinan pekerjaanku akan kembali. Tas, buku dan seperangkat alat tulis yang sudah kusiapkan semalam segera kubawa berangkat. Sekolahku tidak terlalu jauh dari rumah kost, hanya perlu melintasi beberapa blok pertokoan.
Samar-samar dari kejauhan aku lihat Yuki, teman dekatku, dia melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum dan berteriak-teriak kecil. Kubalas lambaiannya sambil mempercepat jalanku.
Tangannya segera merangkul dan seketika memelukku, ia memang selalu begitu bila bertemu denganku dan tidak mempedulikan orang-orang disekitar. “Bagaimana dengan liburanmu ?” tanyanya, “seperti biasa, aku mencari pekerjaan kecil-kecilan untuk manabung, uang untuk masuk perguruan tinggi pasti besar…”, “Tinggal saja denganku !” katanya dengan cepat, “ Rumahku cukup besar untuk kita berdua !”, tak percaya dengan apa yg aku dengar….., “Betulkah ?”, aku memastikan, “Tentu saja !, lagi pula aku kesepian tinggal sendiri, semenjak papa pergi, waktu luangku kuhabiskan dengan melamun, lagi pula bukankah kau bisa menghemat uang kost ?” ia menambahkan, aku berpikir sejenak, “Baiklah, kebetulan tiga hari lagi kontrak kostku akan habis, besok siang aku akan mulai berkemas !”.
Tak terasa bis yang kami tunggu akhirnya tiba, aku sudah terbiasa berdiri bergelantungan. Semua bangku terisi penuh penumpang lain.
Akhirnya kami tinggal serumah dan sepakat untuk membagi-bagi tugas, aku menangani perbelanjaan, dan urusan-urusan luar rumah, sedangkan Yuki menangani tugas-tugas dalam rumah. Hubungan kami berjalan lancar, saling bercerita satu sama lain, secara panjang lebar ia mengungkapkan ketidakbetahannya, ia tergolong kuat sebagai wanita, tanpa orang tua dan saudara, dan menopang hidup dari pensiunan ayahnya, beberapa sisa tabungan keluarga, dan beasiswa yang acap kali dia dapatkan. Kami memiliki banyak persamaan, semenjak kedua orang tuaku meninggal, pikiran kami sama-sama terkonsentrasi untuk terus belajar dan bekerja.
Genap dua bulan, aku merasakan ada sesuatu yang hilang pada Yuki, gairah hidupnya menurun, banyak menyendiri, bahkan ketika aku lewat didepannya, seakan-akan ia tidak melihat apa-apa. Biasanya ia memeluku sepulang sekolah bila menghadapi masalah dan langsung menceritakannya, namun akhir-akhir ini ia terlihat begitu dingin. Kupikir ia sedang jenuh menghadapi kerutinan ini, seketika aku mendapat ide mengajaknya pergi ke gunung beberapa hari, melupakan sejenak kesibukannya.
Tidak banyak yang kami lakukan, mendirikan Tenda bukan masalah yang sulit, apalagi mencari potongan kayu bakar untuk membakar jagung. Kami melintasi air terjun dan bermain-main air, ia tampak mulai ceria, bibirnya yang tipis kembali tersenyum, baru pertamakali aku merasa sebahagia itu saat melihatnya kembali tertawa, ada sesuatu yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata. Waktu tiga hari terasa begitu cepatnya. Kami segera berkemas untuk pulang.
Setiba dirumah, Yuki segera membersihkan diri dan beristirahat, ia merasa agak pusing, kupikir ini normal, mengingat cuaca gunung sangat dingin dan butuh waktu untuk beradaptasi kembali. Pakaian kubenahi dan kupilah-pilah yang kotor untuk dicuci.
Esok harinya aku belajar seperti biasa, kusampaikan pada wali kelas Yuki bahwa ia tidak masuk karena sakit. Wali kelas sempat menanyakan hubunganku dengan Yuki, dan kujawab saja sekedarnya.
Lima hari berlalu, demam Yuki tak kunjung berhenti, pada suatu malam badannya menggigil kedinginan, seketika kuhubungi dokter agar secepatnya datang. Kompresan air hangat kulipat-lipat diatas keningnya dan menjaga suhu tubuhnya agar tetap hangat. Setelah sekian lama, akhirnya dokter tiba, dengan penuh harapan agar Yuki segera sembuh, aku minta banyak sekali saran. Setelah diperiksa dokter itu memberikan secarik resep dan memberi saran agar memantau dia dan berkata bahwa ini hanya demam yang akan segera sembuh. Ucapannya cukup menenangkan, setidaknya untuk malam ini.
Hari ke hari terasa begitu lambat, aku terpaksa ijin dari sekolah untuk menjaga Yuki. Kesehatannya adalah tanggungjawabku, aku yang mengajaknya bepergian ke gunung berlama-lama. Setelah tak sanggup lagi dokter untuk pulang-pergi kerumah, ia menyarankan agar Yuki untuk dibawa ke Rumah sakit dan dirawat disana. Pada mulanya aku ragu akan perawatan yang akan dijalani di rumah sakit, tapi rumah sakit memperbolehkan aku mengunjunginya kapan saja tanpa batas waktu, sehingga Yuki kurelakan untuk dibawa, lagi pula biayanya tidak terlalu besar.
Aku kembali belajar disekolah, sesekali pikiranku diselingi akan kesehatan Yuki dan berkaca-kaca didepanku akan keceriannya. Acap kali melihat kelasnya, tanganku reflek mengangkat tangan, ia biasanya berlari kearahku, entah darimana ia selalu memiliki cerita-cerita untuk bisa dibicarakan dikantin. Tiba-tiba aku mendapat telepon dari rumah sakit, Yuki dalam keadaan koma, rupanya selama lima hari ia tidak sadarkan diri yang membuat cairan tubuhnya berkurang drastis, seketika kututup telepon dan berlari keluar sekolah, menuju rumah sakit !.
Pikiran buruk mulai membayangi pikiranku, aku gelisah tak karuan waktu menginjak pintu rumah sakit, seakan tak percaya, Yuki terbaring pucat sekali, bibirnya biru kehitam-hitaman, tubuhnya dingin, lebih dingin dari sebelumnya. Dengan sisa-sisa harapan aku menggenggam tangannya, entah apa yang menyebabkan Yuki patah semangat dalam hidupnya, aku tak sadar air mataku mengalir, menetes diantara jemarinya dan berbisik kecil terus berdoa dan berharap, “ kau jangan meninggalkanku Yuki !”, tak terasa detak jantungku semakin kencang ketika degup jantung Yuki melemah, pada saat-saat terakhir dokter menutupkan selembar kain putih pada wajah Yuki yang kutahu artinya Yuki telah tiada. Saat itu pikiranku kembali akan masa-masa indah bersama Yuki, waktu pertamakali berkenalan, senyumannya tulus, tawanya yang riang mengobati kesunyian yang kumiliki, hingga tak sadar ku hafal langkah-langkah kakinya dipagi hari, pikiranku menerawang tak mau lepas dari kenyataan, didalam diriku telah tumbuh sesuatu, sesuatu yang tak mau lepas, tak mau kehilangan Yuki, setidaknya untuk saat ini, amarahku memuncak ketika kuketahui secara jujur dan kuakui bahwa begitu besarnya aku menyayanginya, emosiku terus bergulir tak sadar ku memukul-mukul dadanya sambil berbisik “aku mencintaimu Yuki !, maafkan aku !, selama ini aku tidak menyadari keberadaanku !, keberadaanku untuk menyatakan cinta ini, kumohon maafkan aku ! “, tenggorokanku terasa kering saat terisak-isak melihatnya tak berdaya. Semua kejadian ini kuragukan sebagai bentuk kenyataan, saat lenganku terkulai letih, ku jatuhkan kepalaku didadanya, diluar kekuasaanku, bagaikan suatu goncangan waktu kurasakan ada suara-suara kecil yang berdegup kudengar, sepercik harapanku kembali muncul, Yuki masih hidup !, kemudian dokter mengambil alih tempatku, dan membawaku keluar ruangan mencari ketenangan. Malam itu terasa begitu lama, tak terasa aku melemaskan pundak dan persendian yang letih ini untuk berbaring tertidur untuk waktu yang lama, dan sangat lama…..
Lima tahun kemudian, aku telah menyelesaikan sekolahku dan mendapat pekerjaan tetap dengan membangun perusahaan kecil. Untuk mengenang kenangan terdahulu, aku bawa dia ke gunung seperti saat lima tahun lalu, menggelar tenda, mencari kayu bakar, dan bermain-main air didekat air terjun. Namun kali ini lain, dimalam harinya kami saling merangkul menghangatkan badan, seketika kubuka sebuah kotak kecil berisi cincin sambil berkata “maukah kau menikah denganku ?”
——-selesai——-
8 comments so far
Leave a reply
Sugoi ne…..
sampe terharu neh di, darimana dapat nya? apa buat sendiri? Andaikan itu gue, waduh bener2 true love ya….pengen donk dapat cinta kaya gitu, pasti bakal bahagia deh gue seumur hidup. ganbatte ne…..
dipaksa isi komen nih.. jadi yah terpaksa deh komen.. hehehehehe… (becanda di…)
cerita nya singkat, tapi bagus.. awal2 nya sedih, tapi akhir nya happy ending… i love story with happy ending…hehehehehe….
nicely done. penggunaan kata2nya sederhana dan mudah dimengerti. cerita bagus, tdk terkesan murahan (bagi gwa). meski awal2nya rada ga jelas itu si ‘aku’ cowok ato cewek. (don’t blame me … ini cerpen khan, bukan biografi?) :p
gw biasa ngeliat tulisan gitu bnyk, kalo baca awal2 cerita ga seru, gw jd males lanjutin. tapi stlh sekian lama, akhirnya ada cerita yg gw abisin jg.(kayak sering baca aja >.<).
heuhehheheue makin di baca makin pengen. ceritanya bagus, tapi perasaan ada satu tmpt yg lompatan cerita agak memaksa, soalnya waktu gw baca lagi seru2nya, eh uda abis… hehe ^____^
” yang letih ini untuk berbaring tertidur untuk waktu yang lama, dan sangat lama…..
Lima tahun kemudian, aku telah menyelesaik”
gwe agak bingung koq bisa si yuki gak jadi mati padahal udah ditutup kaen putih, ato yuki yg lo ajak merit itu hantunya yuki .. hehehe .., trus mereka masih sma tapi udah kumpul kebo mang si yuki gak punya om / tante gitu …*enak tuh ..gwe juga mao .. kekeke .. * , trus si yuki sakit apa yah , masa pusing doang bisa jd meninggal sih ??? kalo dari crita bagus & gwe ngerti ama yg lo critain .. ^_^
emang yuki sakit apa ya? itu yg pertama terlintas di kepala gue hehe. penulisannya ok, kata-katanya bagus
Waaww.. sangat.. sangat.. sekali..
*padahal blom baca,yg penting comment dulu*
sukses ya mulai nulis neh,,
rajin rajin baca ya , buat referensi , alurnya masih belum rapi, ceritanya masih misterius ,, hehehhee,, sapa si yuki kemana ortu nya,, si aku juga sapa,, btw gpp ,, belajar terus ya,, biar lebih bagus,,