ARTI DARI KESEMPURNAAN
Ketika terbangun dari tidurku, aku selalu membawa sebuah jawaban dari setiap pertanyaanku tentang apa arti hidup ini, mimpi-mimpi sebagai bunga tidur sering membantuku dengan memperlihatkannya sebagai bentuk abstrak untuk dapat kupilih dan kuperagakan sebagai contoh hidup yang dapat kujalani, kulalui, dan tampak begitu nyata, seakan-akan aku melupakan arti dari nilai-nilai kebohongan, kepalsuan, dan kebencian.
Namun yang kudapatkan bukan sesuatu yang dapat meningkatkan pengalaman yang telah ada, semuanya memberi jawaban sebagai pengalaman baru, ketika terbangun sepertinya aku selalu menjadi orang lain yang aku sendiri tidak mengenalnya dan dapat aku pastikan tak ada manusia seperti itu. Perasaan mati, tenggelam, hilang ditelan bumi, dan kamu bisa melihat dirimu berjalan dengan pemikiran yang sangat tinggi diluar jangkauan orang lain dan nalar yang sangat panjang !. Anehnya aku tidak pernah merasa bangga pada diriku sendiri, karena aku hanya menyaksikannya dalam hati, dimana hati tersebut terlampau luas hingga tak terlihat batas-batasnya yang menjadikannya sebagai penjara terluas dalam diriku.
Akhirnya kuketahui bahwa aku telah membagi diriku ini menjadi dua. Tapi tidak seperti orang lain, dimana saling bertentangan satu sama lain. Diriku yang satu tidak memiliki indra untuk berinteraksi dengan dunia luar, ia hanya bisa berinteraksi dengan diriku yang satu lagi, dimana dia mengendalikan seluruh indra. Semua kelebihan dari diriku yang pertama diwujudkan dengan daya nalar, nasihat, dan pendapat serta pilihan untuk diriku yang kedua, dan yang kedua mengerjakannya dengan sempurna.
Dengan pola-pikir yang selalu ingin menciptakan sesuatu yang baru, aku seringkali menangkap banyak kajian dari orang lain dengan merekam segala yang kuterima dari semua indraku tentang orang tersebut, dan nilainya tidak hanya berupa audio visual, namun setiap ekspresi seakan-akan menjelaskan semua hal yang diketahui orang tersebut.
Dari banyak perjalanan panjang, aku mencoba tidak selalu bertanya pada diriku sendiri, melainkan kepada orang lain tentang masalahku, dan jawabannya sangat sederhana dan bijaksana, dia berkata bahwa aku adalah manusia sempurna yang telah melupakan kesempurnaanku untuk dapat bergaul dengan orang lain !.
Aku sempat bertanya-tanya kembali
Aku (2) : ” Mengapa aku dapat merasakan sesuatu yang indah ? “.
Aku (1) : ” Karena kau tidak lagi sempurna ! “.
Aku (2) : ” Mengapa aku tidak lagi sempurna ? “
Aku (1) : ” Karena kau bukan aku dan kita seharusnya menjadi satu hati “
Aku (2) : ” Apakah bila kita bersatu dan menjadi sempurna maka takkan lagi merasakan sesuatu yang indah, kalau begitu apalah gunanya kesempurnaan ?”
Aku (1) : ” Satu hal yang pasti bahwa sesuatu yang tidak sempurna tidak akan pernah bisa menjelaskan sesuatu yang sempurna secara sempurna”
Aku (2) : ” Baiklah, bagaimana cara kita memperoleh kesempurnaan itu tanpa menghilangkan perasaan indah yang kumiliki saat tidak sempurna sekarang ? “
Aku (1) : “Ada satu cara, yakni kita akan tampak sempurna bila kita bekerjasama!, dan kau akan tetap bisa merasakan keindahan itu ! “
No comments yet
Leave a reply
