Archive for June, 2008|Monthly archive page

Hanya Dia

hati ini tersapu panas harapan yang menggebu dan dinginnya salju penolakan cinta, merangkai akan jauh dekatnya perasaan untuk selalu hilang, agar aku tetap ada…., agar aku tak mati…., agar aku terpenjara dan hati utuh-ku hanya untuk-Mu, selalu untuk selamanya. Terimakasih Tuhan, kini aku benar-benar ADA.

Advertisements

TERJEBAK

Aku rasakan saat suatu pandanganku pada sesuatu telah kumengerti, sepertinya itulah jawaban dari arti sebenarnya hidup ini. Esok harinya aku melihat pandangan tersebut bukanlah jawaban seutuhnya, melainkan hanya bagian yang tak ku ketahui besar kecilnya.

Seperti perasaan sayangku !, keberatannya untuk melupakan dan kesanggupan hati untuk memaafkan tanpa batas. Itukah Cinta ?, apakah pandanganku berikutnya akan membatasi arti Cinta tersebut ?, lihat saja !, aku akan membuatnya abadi, atau….. bencana !

Masa depan apa yang kuinginkan ?, keinginan apa yang ingin kucapai ?, semua bisa kubayangkan dan kuimpikan sekarang. Apalah artinya kenyataan untuk kulaksanakan bila hanya satu !, aku bukan ingin mengetahui kenyataan yang lain, tapi cara pandangan lain.

Pernahkan kau berfikir ?, lalu kau berfikir hal lain, kemudian hal yang lainnya kembali ?.

Sampai kapan kamu akan terus begini ?, berhentilah !, cari langit berikutnya, niscaya kamu akan mendapatkan alam baru yang lebih tinggi dari berfikir.

Tapi apakah alam baru tersebut adalah jawabannya ?, sementara masih ada hari Esok ?

Baiklah, aku ternyata terjebak di alam dimana aku berperan untuk selalu mencari alam lain. Aku harus keluar, meskipun tak ku ketahui peraturan pada dunia berikutnya.

Tapi………….

Masih adakan hari esok untuk dunia tersebut ?

ARTI DARI KESEMPURNAAN

Ketika terbangun dari tidurku, aku selalu membawa sebuah jawaban dari setiap pertanyaanku tentang apa arti hidup ini, mimpi-mimpi sebagai bunga tidur sering membantuku dengan memperlihatkannya sebagai bentuk abstrak untuk dapat kupilih dan kuperagakan sebagai contoh hidup yang dapat kujalani, kulalui, dan tampak begitu nyata, seakan-akan aku melupakan arti dari nilai-nilai kebohongan, kepalsuan, dan kebencian.

Namun yang kudapatkan bukan sesuatu yang dapat meningkatkan pengalaman yang telah ada, semuanya memberi jawaban sebagai pengalaman baru, ketika terbangun sepertinya aku selalu menjadi orang lain yang aku sendiri tidak mengenalnya dan dapat aku pastikan tak ada manusia seperti itu. Perasaan mati, tenggelam, hilang ditelan bumi, dan kamu bisa melihat dirimu berjalan dengan pemikiran yang sangat tinggi diluar jangkauan orang lain dan nalar yang sangat panjang !. Anehnya aku tidak pernah merasa bangga pada diriku sendiri, karena aku hanya menyaksikannya dalam hati, dimana hati tersebut terlampau luas hingga tak terlihat batas-batasnya yang menjadikannya sebagai penjara terluas dalam diriku.

Akhirnya kuketahui bahwa aku telah membagi diriku ini menjadi dua. Tapi tidak seperti orang lain, dimana saling bertentangan satu sama lain. Diriku yang satu tidak memiliki indra untuk berinteraksi dengan dunia luar, ia hanya bisa berinteraksi dengan diriku yang satu lagi, dimana dia mengendalikan seluruh indra. Semua kelebihan dari diriku yang pertama diwujudkan dengan daya nalar, nasihat, dan pendapat serta pilihan untuk diriku yang kedua, dan yang kedua mengerjakannya dengan sempurna.

Dengan pola-pikir yang selalu ingin menciptakan sesuatu yang baru, aku seringkali menangkap banyak kajian dari orang lain dengan merekam segala yang kuterima dari semua indraku tentang orang tersebut, dan nilainya tidak hanya berupa audio visual, namun setiap ekspresi seakan-akan menjelaskan semua hal yang diketahui orang tersebut.

Dari banyak perjalanan panjang, aku mencoba tidak selalu bertanya pada diriku sendiri, melainkan kepada orang lain tentang masalahku, dan jawabannya sangat sederhana dan bijaksana, dia berkata bahwa aku adalah manusia sempurna yang telah melupakan kesempurnaanku untuk dapat bergaul dengan orang lain !.

Aku sempat bertanya-tanya kembali

Aku (2) : ” Mengapa aku dapat merasakan sesuatu yang indah ? “.

Aku (1) : ” Karena kau tidak lagi sempurna ! “.

Aku (2) : ” Mengapa aku tidak lagi sempurna ? ”

Aku (1) : ” Karena kau bukan aku dan kita seharusnya menjadi satu hati ”

Aku (2) : ” Apakah bila kita bersatu dan menjadi sempurna maka takkan lagi merasakan sesuatu yang indah, kalau begitu apalah gunanya kesempurnaan ?”

Aku (1) : ” Satu hal yang pasti bahwa sesuatu yang tidak sempurna tidak akan pernah bisa menjelaskan sesuatu yang sempurna secara sempurna”

Aku (2) : ” Baiklah, bagaimana cara kita memperoleh kesempurnaan itu tanpa menghilangkan perasaan indah yang kumiliki saat tidak sempurna sekarang ? ”

Aku (1) : “Ada satu cara, yakni kita akan tampak sempurna bila kita bekerjasama!, dan kau akan tetap bisa merasakan keindahan itu ! “

SURATKU YANG TERAKHIR

Setahun yang lalu kita mulai dekat, dan sepertinya aku kehabisan pengungkapan rasa sayang untukmu, kabut-kabut didepanku kian makin tebal, tak sabar rasanya menunggu esok hari, perjalanan awal yang panjang bersama seseorang yang tepat masih tetap kusimpan dan terjaga diatas pundak ini. Sekarang tanganku tak halus lagi !, kugunakan untuk mencuci gulungan kain kafanku. Bagaimana kabarmu ?, kini aku sepenuhnya menjadi aku !, arena curam, dan kepadatan lalu-lintas menjadi teman air muka semua orang. Bangunan yang tinggi semakin menyembunyikan kesunyian hati ini. Sepertinya tidak ada cara selain melompat keluar walaupun akan mematahkan kedua kakiku untuk bisa melihatmu sekali lagi. Aku sempat bertanya-tanya pada-Nya, dan jawaban yang kuterima berupa kepastian bahwa manusia adalah makhluk pengabdi yang abadi. Aku hanya bisa berharap dan berusaha mengikuti jalur ini, tapi mengapa lintasannya berlawanan arah denganmu ?

Selama sekian tahun telah bergulir waktu, tapi aku masih sering lupa bagaimana caranya berbicara dengan baik !, Berbagai irama yang kuingat dari lantunan nada menutup ruang lingkup dari maksud kata-kata yang ingin kuutarakan, sehingga harus ada seseorang yang betul-betul peduli padaku. Banyak pujangga lain menunggu teman hidupnya dengan meniupkan seruling atau berteriak-teriak sambil memegang secarik kertas.

Aku sempat meragukan akan keberadaan diri sendiri, sebelumnya aku tak tahu lagi apa yang harus ku lakukan, entah itu berteriak-teriak atau bermain seruling. Akhirnya kuputuskan untuk membunuh hatiku sendiri. Kini hanya ruang batinku yang berisi akal dan nafsu sepenuhnya mengendalikanku !, dan beberapa ruang hati yang bisa diselamatkan berupa detakan jantung yang selalu berirama hingga nafas yang terakhir. Akhirnya doaku hanyalah ingin memiliki selembar kain kafan putih yang kucuci sendiri dan hati yang baru !

Seberapa tinggi nalarku untuk menggapai tujuan hidup, cukup bisa mengimbangi kepuasannya yang acapkali terjatuh dan bangun kembali meringankan roman muka kesepian yang kulihat didepan cermin. Kau bisa tahu dari alur-alur nada kesukaanku. Lain halnya dengan tatanan matamu, nadanya memang seakan mencari-cari tahu apa yang dilihatnya meskipun hatimu berkata tidak. Aku masih bingung, apa yang menjadi kunci sehingga bisa membuka hati seorang wanita. Mereka berkata bahwa harta, tahta, dan gaya hidup adalah jawabannya, namun setelah aku mendapatkannya kemudian memberikan segala kemudahan, mereka melupakannya. Kupikir kau memang bukan teman untuk hidup yang kucari-cari.