SURATKU YANG TERAKHIR

Setahun yang lalu kita mulai dekat, dan sepertinya aku kehabisan pengungkapan rasa sayang untukmu, kabut-kabut didepanku kian makin tebal, tak sabar rasanya menunggu esok hari, perjalanan awal yang panjang bersama seseorang yang tepat masih tetap kusimpan dan terjaga diatas pundak ini. Sekarang tanganku tak halus lagi !, kugunakan untuk mencuci gulungan kain kafanku. Bagaimana kabarmu ?, kini aku sepenuhnya menjadi aku !, arena curam, dan kepadatan lalu-lintas menjadi teman air muka semua orang. Bangunan yang tinggi semakin menyembunyikan kesunyian hati ini. Sepertinya tidak ada cara selain melompat keluar walaupun akan mematahkan kedua kakiku untuk bisa melihatmu sekali lagi. Aku sempat bertanya-tanya pada-Nya, dan jawaban yang kuterima berupa kepastian bahwa manusia adalah makhluk pengabdi yang abadi. Aku hanya bisa berharap dan berusaha mengikuti jalur ini, tapi mengapa lintasannya berlawanan arah denganmu ?

Selama sekian tahun telah bergulir waktu, tapi aku masih sering lupa bagaimana caranya berbicara dengan baik !, Berbagai irama yang kuingat dari lantunan nada menutup ruang lingkup dari maksud kata-kata yang ingin kuutarakan, sehingga harus ada seseorang yang betul-betul peduli padaku. Banyak pujangga lain menunggu teman hidupnya dengan meniupkan seruling atau berteriak-teriak sambil memegang secarik kertas.

Aku sempat meragukan akan keberadaan diri sendiri, sebelumnya aku tak tahu lagi apa yang harus ku lakukan, entah itu berteriak-teriak atau bermain seruling. Akhirnya kuputuskan untuk membunuh hatiku sendiri. Kini hanya ruang batinku yang berisi akal dan nafsu sepenuhnya mengendalikanku !, dan beberapa ruang hati yang bisa diselamatkan berupa detakan jantung yang selalu berirama hingga nafas yang terakhir. Akhirnya doaku hanyalah ingin memiliki selembar kain kafan putih yang kucuci sendiri dan hati yang baru !

Seberapa tinggi nalarku untuk menggapai tujuan hidup, cukup bisa mengimbangi kepuasannya yang acapkali terjatuh dan bangun kembali meringankan roman muka kesepian yang kulihat didepan cermin. Kau bisa tahu dari alur-alur nada kesukaanku. Lain halnya dengan tatanan matamu, nadanya memang seakan mencari-cari tahu apa yang dilihatnya meskipun hatimu berkata tidak. Aku masih bingung, apa yang menjadi kunci sehingga bisa membuka hati seorang wanita. Mereka berkata bahwa harta, tahta, dan gaya hidup adalah jawabannya, namun setelah aku mendapatkannya kemudian memberikan segala kemudahan, mereka melupakannya. Kupikir kau memang bukan teman untuk hidup yang kucari-cari.

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: